SAMBUTAN KETUA PHDI PROVINSI SUMATERA SELATAN DALAM RANGKA MENYAMBUT PERAYAAN NYEPI TAHUN SAKA 1938.


NYEPI SEBAGAI BENTUK RITUAL PENGHARMONISAN KEHIDUPAN DI ALAM SEMESTA.

Om Swastyastu

Saudara-saudara umat se-Dharma yang kami muliakan dimanapun saudara berada ,

Perayaan nyepi tahun Saka 1938 yang bertepatan dengan tahun 2016 Masehi, yang jatuh pada hari Rabu, tanggal 9 Maret 2016 merupakan Hari suci menyambut tahun baru Saka 1938. Untuk itu kami mengajak seluruh umat Hindu khususnya yang berdomisili di Kota Palembang, dan umumnya yang berdomisili di wilayah Sumatera Selatan untuk senatiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dengan cara melaksanakan rangkaian ritual keagamaan serta keharmonisan dengan sesama manusia dan lingkungan dalam rangka menyambut perayaan  Tahun Baru Caka atau Hari Raya Nyepi .

12075029_10153304272799102_2883050891941501633_n

Rangkaian kegiatan menyongsong dan menyambut hari raya Nyepi  seperi melaksanakan upacara melasti (Melis), dengan inti kegiatan melakukan ritual pembersihan dan penyucian baik buana alit (diri kita sendiri), maupun buana agung (alam semesta) dengan mendatangi sumber-sumber air terdekat seperti mata air, sungai, danau bahkan laut sekalipun.  Simbol-simbol pemujaan dan ritual disucikan dengan membasuh secara ritual demikian juga kita sekalian sebagai seorang bhakta melakukan ritual pembersihan diri guna menyiapkan phisik dan mental kita dalam rangka melaksanakan kewajiban berupa catur brata penyepian.

Sehari sebelum melaksanakan catur brata penyepian umat Hindu melaksanakan ritual keagamaan berupa upacara Taur Kesangan (upacara Ngerupuk). Upacaranya berupa banten mecaru dan rangkaian kegiatannya bertujuan menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dengan sesama manusia, manusia dengan Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara serta pemralina (pelebur), maupun dengan lingkungan yang didalamnya terangkum aneka mahluk yang tidak kasap mata namun dapat mempengaruhi keharmonisan kehidupan di alam semesta  ini.

Dalam sekup kecil kita mengerupuk ditempat tinggal kita masing-masing, lebih luas untuk sekup desa, dan kewilayahan yang lebih luas bahkan mencakup satu kesatuan bangsa, bahkan dunia sekalipun. Disinilah letak ke Universalan umat Hindu yang senantiasa mengedeapankan kepentingan bangsa dan dunia , atas nama nilai-nilai universal kemanusiaan dan ketuhanan.

Keesokan harinya bertepatan dengan Hari Nyepi yang tahun ini jatuh pada hari Rabu tanggal 9 Maret 2016, seluruh umat Hindu melaksanakan catur barata penyepian yang meliputi :

  1. Amati geni (tidak menyalakan api),  pemaknaannya yaitu  tidak menyalakan api secara fisik seperi api kompor, korek api, kayu bakar dan lain-lain, maupun api non fisik, yaitu api yang ada pada diri kita masing-masing berupa kemarahan, emosi, kedengkian dan segala bentuk nafsu negatif yang perlu dikendalikan.
  2. Amati lelungan (tidak bepergian), brata ini dimaknai umat hindu tidak melakukan perjalanan jarak jauh seperti bepergian ke pasar, ketempat-tempat umum , namun tetap berada dirumah atau di tempat persembahyangan.
  3. Amati lelanguan (tidak melaksanakan hiburan-hiburan) , pada barata ini umat hindu tidak diperkenankan melaksanakan hiburan yang berlebihan seperti memutar tape recorder berlebihan, nonton televisi berlebihan, menghadiri pusat-pusat hiburan seperti karaoke, diskotik dll.
  4. Amati karya (tidak bekerja), dalam arti tidak melakukan aktivitas rutin sesuai pekerjaan kita masing-masing. Setelah setahun  kita bekerja, maka untuk satu hari (24 Jam) kita beristirahat untuk melakukan instrospeksi (mulat sarire), merenung dan menimbang-nimbang hal-hal apa saja yang telah kita kerjakan, seberapa besar dosa-dosa yang telah kita perbuat  dan seberapa banyak amal kebajikan yang telah kita lakukan, untuk semua itu mari kita berani jujur pada diri sendiri, dengan satu tekat untuk melakukan koreksi  dan perbaikan dimasa yang akan datang.

Disamping keempat brata penyepian di atas sangat dianjurkan umat Hindu untuk melakukan upawasa (puasa) selama 24 jam. Hal ini ditujukan untuk melatih kedisiplinan dan tanggung jawab kita sebagai umat serta melatih kepekaan nurani kita agar kita senantiasa dapat merasakan derita yang dialami oleh  saudara-saudara kita siapapun dia selanjutnya akan tumbuh suatu semangat dan keinginan untuk memberi pelayanan dan membantu meringankan mereka sesuai deangan kekuatan dan kemampuan yang kita miliki. Hal ini penting guna menjaga persahabatan, persaudaraan dan perdamaian secara universal.

Keesokan harinya seluruh umat hindu yang telah melaksanakan catur brata penyepian melaksanakan ritual ngembak geni (menyalakan  api), diikuti kegiatan mesimakrama (silahturahmi) sesama manusia. Kita bersyukur telah melaksanakan rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan hari raya Nyepi dengan tekat dan semangat baru menuju kehidupan yang lebih berkualitas, baik dalam melaksanakan Dharma agama maupun dalam melaksanakan Dharma negara.

Akhir kata kami selaku pengurus PHDI Provinsi Sumatera Selatan mengucapkan selamat merayakan hari raya Nyepi tahun Saka 1938 mohon maaf lahir dan bhatin . Jadikanlah setiap pikiran, perkatan dan perbuatan kita selama  setahun yang lalu sebagai pengalaman dan songsonglah  hari esok dengan optimis dan keyakinan untuk hidup yang lebih baik guna mencapai Moksartham Jagat Hita Yaa Ca Iti Dharma (kebahagiaan didunia dan keabadian di sorga).

Kepada seluruh umat Hindu kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama, dukungan dan parsisipasi aktif serta senantiasa menjaga harmonisasi hubungan intern umat beragama, antar umat beragama yang satu dengan umat beragama yang lain serta atara umat beragama dengan pemerintah.

Om Lhoka Samastha Sukina Bhawantu

Om Santi Santi Santi Om

Share.