I Gusti Bagus Surya Negara menuliskan kutipan Yajurveda XXV.14 itu sebagai status kontak di blackberry miliknya, dan tak pernah diganti. Untaian kata itu bermakna dalam: “Semoga pikiran-pikiran mulia, gagasan-gagasan yang menyelamatkan dan menguntungkan, datang dari semua arah kepada kami.” Ada yang memang tak pernah lepas dari pemahaman Surya Negara, bahwa seperti halnya sang surya yang tak lelah menerangi bumi dari hari ke hari, Yang Maha Kuasa setiap hari menurunkan anugerah yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian pula imbasnya kepada manusia itu sendiri. Bahwa setiap diri manusia pun mengemban amanah dari Tuhan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekelilingnya. Karena itu, bagi Surya Negara, mengasihi semua makhluk adalah bagian dari kewajiban manusia: kasihilah semua mahluk, maka duniapun akan mengasihimu…
Lahir 11 Maret 1957 di Cakra Negara, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pemilik nama dan gelar lengkap Drs. I Gusti Bagus Surya Negara SE, Ak, MM, CFrA, CA ini tak per- nah lupa dengan jejaknya pertama berkarir di dunia pengawasan, dari jenjang paling bawah sebagai tukang ketik, golongan II/a. Namun berkat tekad dan keyakinannya, “tukang ketik” itu perlahan tapi pasti naik ke permukaan, hingga menjadi Kepala Biro Umum BPKP Pusat, dan kini sebagai Kepala Perwakilan BPKP Perwakilan Provinsi Sumatera Selatan.
Pada tahun 1974 sebagai siswa kelas dua SMA, Surya Negara menginjakkan kakinya di Palembang. Lulus SMA tahun 1975, Surya bekerja di PT Pusri pada tahun 1976. Tahun 1978 pindah ke Kantor Akuntan Negara Palembang Kantor Wilayah II yang pada tahun 1983 menjadi Perwakilan BPKP Provinsi Sumatera Selatan. Pada masa sebagai pegawai golongan bawah itu, Surya menyempatkan diri bekerja sambil kuliah di Extension Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya. Di situ, dirinya bertemu gadis keturunan Komering yang kini menjadi istrinya, Sri Murniati.
Barulah dirinya lepas dari Palembang pada tahun 2000 ketika Surya Negara dipromosikan sebagai eselon empat di BPKP Perwakilan DKI Jakarta dan BPKP Perwakilan DKI Jakarta II. Satu tahun kemudian Surya Negara dipromosikan sebagai Kepala Bidang di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Kementerian PAN) sebagai pegawai yang dipekerjakan. Pada tahun 2003, dirinya kembali bekerja di BPKP sebagai Kepala Bagian (Kabag) Rumah Tangga, Sekretaris Utama di BPKP Pusat, sampai dengan tahun 2007.
Sebagai Kabag Rumah Tangga, Surya Negara merangkap pula sebagai pemimpin proyek (pimpro) periode 2003 – 2004, membangun gedung baru BPKP Pusat 12 lantai di Jalan Pramuka Jakarta dan gedung Pusdiklatwas BPKP di Ciawi Jawa Barat. Dalam masa itu, Surya Negara ditempa menghadapi LSM, wartawan, dan pemeriksa.
Pada November 2006, gedung baru BPKP Pusat diresmikan langsung oleh Menteri Keuangan (waktu itu) Sri Mulyani. Dalam sambutannya, Sri Mulyani memberikan apresiasi dengan menyatakan bahwa gedung BPKP adalah gedung pemerintah terbaik saat itu. Terbaik dalam ukuran semi modern dan cost per m2 yang relatif rendah un- tuk ukuran wilayah DKI. Tak cukup dengan itu, biaya pembangunan gedung BPKP itu diakui telah terjadi penghematan sebanyak Rp63 miliar!
Pada Maret 2007, Surya Negara mutasi sebagai Kabag Tata Usaha Perwakilan BPKP Jawa Timur selama satu tahun, dan pada Mei 2008 kembali ke BPKP Pusat dengan promosi sebagai Kepala Biro Umum BPKP Pusat. Tantangan terbesar Surya Negara sebagai Kepala Biro Umum BPKP Pusat adalah mengusir penghuni rumah dinas yang tak sah di seluruh rumah dinas BPKP se-Indonesia. Karena tugas ini, dirinya pernah dituntut, bahkan debat dengan mantan penghuni dalam sebuah acara TV swasta. Namun, dengan kelengkapan dokumen, antara lain berkas perjanjian yang ditandatangani penghuni sebelum menempati rumah dinas, Surya Negara dapat melaksanakan tugas itu dengan sukses.
Pengurusan gedung BPKP Pusat, antara lain upaya menghemat energi, yang dikelola Surya Negara, diam-diam mendapat perhatian Kementerian ESDM. Dari hasil audit energi yang dilakukan kementerian itu, gedung BPKP Pusat dinyatakan sebagai gedung pemerintah terbaik dalam hal penghematan energi. Sebagai reward, pada tahun 2008, Surya Negara memperoleh shortcourse “Eight Training Course on Energy Conservation in Japan for Asean Countries (MTPEC09)” selama dua minggu di Tokyo. Pada Agustus 2011, suratan tangan membawanya kembali kepada tanah kelahiran keduanya, Palembang, menjadi orang nomor satu di kantor tempatnya dulu bekerja sebagai Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Sumatera Selatan.
Sebagai Kepala Perwakilan, Surya Negara berupaya menerapkan apa yang diyakininya sebagai berkah bagi lingkungan di mana pun dirinya berada. Sebagai pimpinan, perhatiannya kepada pegawai tingkat bawah, bahkan sampai tenaga harian lepas (THL), tak pernah luput. “Jangan lah kita menggenggam tangan seperti petinju,” demikian pesan Surya Negara kepada pegawai lain yang memiliki golongan lebih tinggi. Istilah “genggaman petinju’ menggambarkan kuatnya tangan tergenggam. Tak mau terbuka untuk berbagi. Surya Negara tidak menginginkan itu terjadi di lingkungan kantornya. Meskipun dirinya keturunan bangsawan Bali yang pernah disemati Pin Kekerabatan Kesultanan Palembang oleh Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, namun ia tak pernah merasa hal itu sebagai privilege, atau hak untuk diistimewakan. Dengan kesadaran penuh, kandidat Doktor Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya ini selalu mengingat masanya sebagai pegawai rendahan. Pengalaman itulah yang menempa seorang Surya Negara untuk mengerti perihnya penderitaan yang dirasakan pegawai di kalangan bawah. “Kita tak akan jatuh miskin dengan memberi mereka yang kekurangan. Bahkan, percayalah, rezeki kita justru akan bertambah. Karena Tuhan tidak tidur,” pesannya setiap kali.
Apa yang dipesankan itu, bagi Surya Negara tak sekadar berhenti di bibir saja. Perhatian dan bantuan dari suami Sri Murniati ini, baik bantuan sosial maupun penugasan yang mendatangkan tambahan penghasilan, tak hentinya diberikan kepada pegawai papan bawah. Apalagi, sebagian besar pegawai itu tak lain teman seperjuangannya sejak lama. Dan Tuhan memang tidak pernah tidur. Seperti magnet, kebaikan pun bak datang dari segala penjuru.
Para pejabat tinggi negara dan daerah, juga petinggi BUMN/D di wilayah kerjanya, seperti larut dalam harmoni Perwakilan BPKP Sumsel. Sebut saja berdirinya Sekretariat Criminal Justice System (CJS), sebagai sinergi antara BPKP Sumsel, Kejati Sumsel dan Polda Sumsel. Hubungannya dengan para kakanwil dan kepala daerah, khususnya Gubernur, pun demikian erat. Gubernur bahkan kerap membuka bahkan menandatangani undangan acara yang diselenggarakan BPKP Sumsel. Demikian juga hubungan dengan para petinggi BUMN/D yang sering mengundangnya diskusi, dengan apresiasi tinggi. Adapun gedung BPKP Pusat dan gedung Pusdiklatwas BPKP yang kini berdiri megah, baginya adalah monumen pencapaian hasil perjuangan dan jerih payahnya selama ini.
IGB Surya Negara barangkali sebuah lakon hidup yang sukses menggapai mimpi. Sebuah kemenangan dari sebuah kerendahhatian. Yang hasilnya tak dinikmati sekadar untuk dirinya, tetapi dibagi menjadi berkah untuk sekitarnya. Yang dilaluinya dengan cara meniti jalan hidup dengan penuh kesabaran, dan dengan kesadaran yang dalam bahwa Yang Maha Kuasa akan senantiasa melindungi dan menolongnya. Juga dengan keyakinan penuh bahwa segala kebaikan akan senantiasa datang dari segala arah.
Ketua PHDI Sumatera Selatan saat ini menjabat sebagai Direktur Lembaga Pemerintah Bidanng Perekonomian Lainnya pada Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Pusat Bidang Perekonomian dan Kemaritiman Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Share.