HINDUALUKTA– Masih ingatkah kita kapan terakhir kali kita bersyukur kepada Dewata (Hyang Widhi) atau Tuhan? Mungkin kita tidak menyadari bahwa ternyata sudah cukup lama kita tidak mengucapkan syukur lagi kepada Hyang Widhi/Tuhan. Atau mungkin kita pernah merasa bahwa segala apa yang kita perbuat adalah hasil dari usaha dan kerja keras kita, jadi untuk apa kita bersyukur kepada Hyang Widhi/Tuhan? Mungkin sebagian dari kita berkata bahwa sudah sekian lama juga berdoa dan berharap kepada Hyang Widhi/Tuhan, tetapi tidak juga menerima jawaban atas segala masalah, jadi untuk apalagi kita berharap dan bersyukur kepada-Nya.
Banyak hal yang bisa membuat kita tidak lagi bersyukur kepada Dewata/Tuhan. Melalui keadaan, masalah, pekerjaan, keluarga dan banyak lagi yang bisa membuat kita justru malah bersungut-sungut dihadapan Dewata/Tuhan. Bahkan sebagian orang menyalahkan Dewata/Tuhan atas apa yang mereka alami dalam kehidupannya. Mereka merasa bahwa Dewata/Tuhan tidak adil bagi mereka. Kalau kita mau merenung sejenak, kita akan menyadari bahwa masih banyak yang bisa kita syukuri dalam kehidupan kita.
Mungkin saat ini kita belum mendapatkan apapun yang menjadi keinginan kita. Tetapi ketika kita mencoba melihat ke “bawah”, masih banyak orang lain yang lebih menderita dari apa yang kita alami saat ini. Kalau kita masih mempunyai keluarga, kita masih beruntung dibanding sebagian orang yang sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Atau bagi yang masih memiliki pekerjaan yg biasa-biasa saja, masih jauh lebih beruntung dibanding dengan mereka yang belum mendapat pekerjaan. Kalau kita masih memiliki anggota tubuh yang lengkap dan sehat, kita seharusnya merasa lebih beruntung dibanding dengan yang mengalami cacat tubuh atau sedang menderita suatu penyakit.
Manusia hendaknya selalu bersyukur kepada Dewata/Tuhan Yang Maha Esa Apapun kondisi dan masalah yang kita hadapi, entah itu baik ataupun buruk, Dewata/Tuhan menginginkan agar kita senantiasa mengucap syukur. Bersyukur dengan apa yang masih kita miliki saat ini. Bersyukur kalau kita masih bisa menikmati hidangan walaupun sangat sederhana. Kalaupun kita diberkati dengan harta kekayaan, tetaplah ucapkan syukur kepada Dewata/Tuhan oleh karena-Nya semua itu ada. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral.
Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. Kita diberikan hidup sebagai manusia, dilahirkan pada keluarga yang satwam, berada pada lingkungan sosial yang baik, dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian, adalah suatu yang luar biasa. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Dewata/Tuhan itulah dilakukan dengan Yajña. Dalam (Bhagavadgita. III.11) dikatakan Devan bhavayatanena te deva bhavayantu vah paraspara bhavayantah sreyah param avapsyatha yang artinya: Dengan melakukan ini engkau memelihara kelangsungan para dewa, semoga para dewa juga memberkahimu, dengan saling menghormati seperti itu, engkau akan mencapai kebajikan tertinggi.
Arti satu sloka di atas jelas bahwa manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju, maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju.
hindualukta.blogspot.co.id
Share.