PHDISUMSEL, Palembang – Ada kisah perjalanan panjang soal Alang-alang (imperata cylindrica raeusch) yang dalam bahasa Bali disebut Lalang atau Ambengan. Salah satu jenis rumput yang cenderung tumbuh liar di alam bebas ini, erat kaitannya dengan Dewa Wisnu, sehingga menjadi salah satu sarana sakral untuk  ritual Hindu.

Tumbuhan Alang-alang gampang dikenali lewat daunnya yang hijau memanjang dengan ujung yang runcing dan sisi-sisinya yang tajam, sehingga bisa melukai jika tergores.Karena gampang tumbuh di lahan pertanian, tumbuhan ini kerap menjadi gulma. Alang-alang sering disamakan dengan rumput Kusha (Desmostachya bipinnata), karena keduanya masih satu famili, namun berbeda genus.Oleh karena itu, ada kemiripan keduanya, pada bagian daun.Namun berbeda pada bunga dan batang, di mana rumput Kusha cenderung lebih tinggi.

Di Bali, Alang-alang merupakan rumput yang dianggap suci dan digunakan dalam sarana upakara, misalnya Sasirat (alat memercikkan tirtha), Sirawista (ikat kepala suci), hingga atap palinggih dan rumah. Kesucian Alang-alang terkait dengan cerita Sang Garuda dalam Adi Parwa.

Dikisahkan bahwa Bhagawan Kasyapa mempunyai dua orang istri, yakni Sang Kadru dan Sang Winata. Suatu ketika Bhagawan Kasyapa bertanya kepada kedua istrinya tentang jumlah anak yang diinginkan. Sang Kadru meminta 100 anak, sedangkan Sang Winata meminta dua  saja. Menanggapi hal itu, Bhagawan Kasyapa kemudian memberikan 100 telur kepada Sang Kadru dan dua telur pada Sang Winata. Lambat laun, menetaslah telur Sang Kadru menjadi 100 ekor ular. Melihat Sang Kadru sudah melahirkan anak-anaknya, Sang Winata tidak sabar. Ia kemudian memecahkan satu butir telurnya. Dari telur yang pecah tersebut lahir Sang Aruna, yakni seekor burung yang belum tumbuh kaki. Burung ini kemudian diceritakan menjadi kendaraan dari Dewa Surya.Sedangkan telur satunya lagi kemudian menetas menjadi seekor burung pula, yakni Sang Garuda yang gagah.

Pada suatu hari, Sang Kadru berdebat dengan Sang Winata tentang warna bulu kuda Ucchaisrawa yang keluar pada saat pengadukan lautan air susu oleh para dewa dan raksasa untuk memperoleh tirtha amrita. Saat itu, Sang Kadru menebak warna hitam dan Sang Winata menebak warna kudanya putih. Mereka lalu bertaruh, siapa pun yang kalah akan menjadi budak dari yang menang. Mengetahui warna kuda ternyata putih, Sang Kadru tidak mau kalah. Tanpa sepengetahuan Sang Winata, ia kemudian menyuruh anak-anaknya membantu. Mereka pun memiliki akal, yakni dengan menyemburkan bisa ke kuda tersebut sehingga warna bulu kuda berubah dari putih menjadi hitam.

Ketika hari pertemuan tiba, Sang Winata dan Sang Kadru datang secara bersama untuk melihat warna kuda Ucchaisrawa.Ternyata warna kuda tersebut adalah hitam yang mengakibatkan Sang Winata kalah dan menjadi budak Sang Kadru dan para naga. Karena merasa iba, Sang Garuda kemudian menggantikan ibunya. Lama-kelamaan, Garuda pun menanyakan kepada naga cara pengganti, agar dia bisa bebas dari perbudakan. Para naga kemudian meminta Garuda untuk mencari Tirtha Amrita agar para naga tersebut bisa hidup abadi.

Sang Garuda pun menyanggupi dan pergi ke Surga untuk mencari Tirtha Amrita. Karena kekuatannya, para Dewa yang menjaga Tirtha Amrita berhasil dikalahkan.Dewa-dewa tersebut kemudian meminta bantuan Dewa Wisnu. Dewa Wisnu pun bertanya kepada Garuda tentang tujuannya mencari Tirtha Amrita.Sang Garuda kemudian menjelaskan persoalan yang dihadapinya. Kagum terhadap Sang Garuda, Dewa Wisnu berkenan memberikan Tirtha Amrita dengan syarat Sang Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Sang Garuda setuju permintaan Dewa Wisnu, yang akhirnya memberikan Tirtha Amrita.

Dewa Wisnu menyampaikan bahwa agar tirtha tersebut bermanfaat, maka orang yang akan meminumnya harus disucikan terlebih dahulu. Selanjutnya, Sang Garuda menyerahkan Tirtha Amrita itu kepada para naga dengan mengatakan syarat yang disampaikan Dewa Wisnu. Para naga yang tidak sabar kemudian berebut untuk mandi dan menyucikan diri dengan meninggalkan tirtha di atas hamparan alang-alang.

Dewa Wisnu yang mengetahui hal tersebut, kemudian mengambil kembali tirtha tersebut dan tetesannya sempat jatuh ke alang-alang. Para Naga yang kembali pun kecewa dan berusaha menjilati tirtha yang menempel pada daun alang-alang. Oleh karena itu,  lidah naga menjadi terbelah, dan semenjak saat itu alang-alang menjadi tersucikan karena mengandung Tirtha Amrita.

Menurut Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata, Alang-alang adalah rumput yang sangat disucikan. “Dalam ajaran Siwa Siddhanta, Alang-alang dijadikan sebagai alas meditasi,” ujarnya. Dalam upacara yadnya, Alang-alang digunakan sebagai alat untuk memercikkan tirtha atau sasirat.Umat Hindu juga percaya bahwa Alang-alang adalah salah satu senjata penolak bala.

“Dengan percikan tirtha dari alang-alang, dipercaya ada energi alam yang melindungi orang yang sedang sembahyang sehingga bisa tetap fokus,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, Alang-alang menjadi salah satu bagian yang paling prinsip dalam sebuah upacara. “Intinya adalah memberikan perlindungan dan kesucian,” terangnya.

Demikian pula jika dijadikan atap rumah, alang-alang secara alami memberikan berbagai manfaat. “Manfaatnya memberikan kesejukan dan karena kekuatannya, sekaligus melindungi orang yang ada dalam rumah tersebut,” lanjut Ida Mpu.

Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Bali dahulu rata-rata menggunakan atap Alang-alang. Bahkan hingga kini, ketika membuat gapura atau pagar sementara di lokasi upacara, Alang-alang masih digunakan karena dipercaya sebagai panyengker atau pelindung secara gaib. Dalam proses pengambilannya dari alam untuk alat upacara, Ida Mpu yang tinggal di Griya Taman Geni Candra, Batu Bulan, Gianyar ini, mengutarakan, tidak perlu tata cara khusus.

“Secara spirit, melalui niat suci semuanya adalah suci. Yang penting adalah ketika Alang-alang itu sudah dibentuk, perlu dipasupati, yakni dimohonkan energi agar Alang-alang bermanfaat untuk menyucikan dan melindungi diri serta alat mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi,” terangnya.

Oleh karena itu, Ida Mpu meyakinkan bahwa dimanapun tumbuhnya, Alang-alang tersebut tetap suci. “Semua tergantung pikiran,” tegasnya.

Apabila ingin digunakan sebagai Sasirat, beliau mengatakan secara simple biasanya cukup diberikan Gayatri Mantra. “Karena Gayatri Mantra adalah ibu dari segala mantra.Jadi mantra itupun sudah cukup,” jelasnya.

Selanjutnya, jika ingin menambah kesakralan sasirat, Ida Mpu menyarankan menggunakan jumlah tertentu. “Biasanya minimal 11, 33, hingga 108.Tapi, yang pas agar tidak terlalu besar atau kecil adalah 33, kemudian diikat dengan benang,” terangnya. Sementara itu, dalam hal pembuatan Sirawista, alang-alang yang digunakan adalah tiga helai yang bermakna Tri Murti, yakni Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, dilengkapi pula dengan kalpika (terbuat dari daun kembang sepatu yang dilipat dan diisi bunga) yang menjadi simbol windu, yakni lambang Ida sang Hyang Widhi Wasa.

“Dengan menggunakannya kita meyakini bahwa Beliau sudah memberkati kita dan memberikan anugerah.Apa yang kita lakukan saat itu sebagai tujuan, misalnya mawinten Saraswati, kita percaya bahwa kekuatan Beliau sudah diikat dan masuk ke dalam diri,” jelasnya.

Sumber : http://www.jawapos.com/baliexpress/read/2017/07/19/2262/begini-ceritanya-alang-alang-jadi-rumput-sakral-dan-sarana-ritual

Share.